Bahaya Suplemen dan Multivitamin Terhadap Tubuh

Suplemen yang terdiri  dari berbagai vitamin sangat laris dan diminati oleh setiap orang yang mempercayai berbagai macam mitos tentang multivitamin. Banyak mitos yang mengatakan ketika seseorang merasa lelah, sebaiknya mengkonsumsi suolemen agar terhindar dari penyakit dan dapat menghilangkan rasa lelah.
Menurut para ahli, suplemen hanya memanipulasi tubuh untuk menerima vitamin palsu agar terasa asli. Vitamin sesungguhnya hanya berada pada makanan yang alami bukan berada pada makanan buatan manusia.
Pada tanggal 10 Oktober 2011 peneliti dari University of Minnesota menemukan bahwa angka kematian orang yang sering mengkunsumsi multivitamin lebih tinggi dari pada orang yang tidak mengkonsumsi suplemen alias multivitamin. Dua hari kemudian klinik Cleveland mengemukakan bahwa, pria yang mengkunsumsi vitamin E secara rutin akan lebih mudah terserang kanker prostat dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi suplemen Vitamin E.

Promosi Suplemen Hanya Untuk Kebutuhan Bisnis
Seorang ahli kimia Amerika Serikat bernama Linus Pauling, pada tahun 1970 menyarankan masyarakat untuk mengkonsumsi 3000 mg setiap hari agar terhindar dari flu. Mayarakat pun percaya kepada presentasi Linus dan mereka mengkonsumsi vitamin C setiap hari. Dalam bukunya yang berjuduil Vitamin C and Common Cold sempat menjadi buku yang laris terjual pada saat itu. Atas penerima Nobel ini membuat apotek dan pabrik farmasi kewalahan, hasilnya 50 juta orang terkena "Efek Linus Pauling". Paulng dipercaya memiliki kemampuan seperti Enstein sehingga tidaklah mengherankan jika banyak orang tidak ragu dengan Pauling.
Pada tahun 1977, seorang ahli bedah skotlandia bernama Ewan Cameron merilis sebuah jurnal yang mengatakan bahwa orang yang mengkonsumsi vitamin C setiap hari akan lebih sulit terserang kanker daripada orang yang tidak mengkonsumsi vitamin C setiap hari. Pauling pun dengan senang hati merilis temuan Ewan ini, sehingga American Academy of Pediadrics dan depertamen kesehatan Amerika merekomendasikan masyarakat untuk mengkonsumsi vitamin C 2000 mg per hari untuk membasi common cold. Linus juga merilis penelitiannya yang mengatakan konsumsi vitamin C secara rutin dalam dosis tinggi dapat menurunkan angka kematian pada pasien kanker sebanyak 10 persen.


Pernyataan Linus ini memancing para ahli kanker untuk menguji penelitian Linus. Charles Moertel dari Mayo Clinic, meneliti 150 pasien kanker yang dibagi menjadi dua bagian, yang sebagian mengkonsumsi vitamin C sebanyak 1000 mg setiap hari dan pasien yang lain tidak mengkonsumsi Vitamin C. Hasilnya tidak ada perbedaan antara pasien kanker yang menerima terapi Vitamin C dan pasien yang tidak menerima terapi tersebut.
Linus Pauling pun menjadi marah dan membantah penelitian Charles, ia mengatakan Charles Moertel telah kehilangan arah penelitian karena mengambil sampel dari pasien kemoterapi yang notabene Vitamin C tidak berfungsi pada penderita kanker dengan kemoterapi. " Vitamin C tidak berlaku bagi pasien yang menerima kemoterapi" tulis Linus di New England Journal of Medicine .
Perang ilmiah pun terjadi, peneliti dari Mayo Clinik pun meneliti pasien kanker tanpa kemoterapi, namun hasilnya tetap sama tidak ada tanda Vitamin C menyembuhkan penyakit kanker.

Pada tahun 2007, peneliti dari National Cancer Institute meneliti 11.000 pria yang melakukan atau tidak meminum multivitamin. Mereka yang meminum multivitamin dua kali lebih mungkin untuk meninggal akibat kanker prostat.

Pada 10 Oktober 2011, para peneliti dari University of Minnesota dievaluasi 39.000 wanita yang lebih tua dan menemukan bahwa mereka yang mengkonsumsi multivitamin tambahan, magnesium, seng, tembaga, dan besi memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak.

Pada medio tahun 2011 Cleveland Clinik merilis sebuah Jurnal yang diteliti pada 36000 pria yang minum Vitamin E secara rutin lebih berisiko terkena kanker prostat.

Pada bulan Mei 1980, dalam sebuah wawancara di Oregon State University, Linus Pauling ditanya, "Apakah vitamin C memiliki efek samping pada penggunaan jangka panjang?" Jawaban Pauling cepat dan tegas. "Tidak," jawabnya.

Tujuh bulan kemudian, istrinya meninggal karena kanker usus. Pada tahun 1994, Linus Pauling meninggal karena kanker prostat.


Post a comment

0 Comments