Wanita Umur 30an Tahun Yang Belum Menikah, Jomblo Adalah Mukaddimah Perjalanan

Siapa yang dapat merayu waktu untuk singgah dalam keterbatasan. Tak akan ada, sebagaimana tak ada manusia dapat menghentikan berjalannya hari ke minggu, minggu ke bulan dan seterusnya. Tak ada pula yang mencegah ketakutan kala waktu penuh kesengsaraan datang menginap di kehidupanku.

Begitulah hidupku dalam debaran-debaran yang tak bisa ku istirahatkan. Aku juga yakin perjalanan waktu tak bisa menghentikan hidupku. Seharusnya aku sudah punya tambatan hati yang melindungiku saat ketakutan merajai hatiku.

Seharusnya aku sudah melayangkan ciuman indah buat bayi yang aku lahirkan. Tapi waktu tak pernah singgah padaku. Aku ingin umurku berjalan seperti siput karena setiap saat perhatian orang hanya padaku, mereka melepaskan pertanyaan "kapan menikah" ibarat anak panah yang melesat dari bibir busur dan siap menancap di jantung.

halutsianacom
Sumber Gambar: Istimewa
Kesendirian ini tidak pernah melepaskanku, dia menjadi teman yang baik, waktu terus berlalu dan aku mulai menyukai kesendirian.

Saat sendiri dan sepi aku coba memanggil Dia yang menciptakan waktu, redup dan sayup Si Pencipta Waktu menjawab: "bersabarlah". Akupun menyadari Dia selalu menganugerakan waktu terindah padaku, Dia tahu apa yang aku butuhkan, Dia tahu siapa yang aku butuhkan.

Itulah Tuhan yang selalu menolong aku merangkul tabah hingga aku tiba pada jamuan makan sebuah resepsi pernikahan. Aku terus bekerja meniti karir meski cemooh orang sekelilingku begitu panas membakar jalan yang aku lewati. Rasanya aku tak perlu larut dalam kecemasan hanya karena seorang pria yang belum menikahiku.

Dari pada aku tergesa-gesa dan mendapat pria yang kelak melepaskanku dari ketinggian langit, yang sebelumnya dia bawah aku terbang menyapa bintang-bintang dimalam hari. 

Aku perawan tua, yang sadar penuh bahwa, hidup dengan denyut-denyut kesepian akan membuat aku menguasai waktu, sehingga aku tak perlu takut pada tubuh yang menua.

Bagiku hidup tak ubah mimpi-mimpi yang dikuasai waktu. Aku bisa memilah gelak tawa yang manakah yang aku sebut bahagia dan tangisan ymana yang aku sebut kesedihan, karena bagiku Jomblo adalah Mukaddimah sebuah perjalanan dan elegi bagi orang terpilih. (Ya2n/just imagination)

Post a comment

0 Comments