Kuat Aku Niscaya Karena Engkau Rangkulku (KANKER): Pentingnya Pelayanan Paliatif Pada Penderita Kanker

Penyakit kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya sel-sel abnormal yang bertumbuh dengan tidak terkontrol dan menyerang jaringan tubuh di sekitarnya, Sel kanker juga dapat menjadi ganas dan menyerang bagian tubuh yang lain.

Di Indonesia, sebagian besar penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut dan diikuti dengan angka harapan hidup yang lebih pendek, yaitu dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada tahap ini pelayanan paliatif sudah semestinya menjadi satu-satunya layanan fragmatis dan jawaban yang manusiawi bagi mereka yang menderita akibat penyakit ini. 

Pelayanan paliatif merupakan suatu upaya medis yang bermaksud meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi masalah penyakit yang mengancam kehidupan, melalui pencegahan dan bantuan terhadap penderitaan pasien. Sebagai seorang praktisi kesehatan dalam hal ini dokter pelayanan paliatif pada pasien kanker merupakan pelayanan yang aktif, menyeluruh meliputi fisik, psikososial, semangat hidup, spiritual serta melibatkan dukungan dari keluarga pasien dengan memegang prinsip pelayanan paliatif, yaitu menghilangkan nyeri dan gejala fisik lainnya, menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses normal, tidak bertujuan mempercepat dan menghambat kematian, mengintegrasikan aspek psikologis, sosial dan spiritual, memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif mungkin, memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita, menggunakan pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya serta menghindari pelayanan yang sia-sia. 

Pendekatan terhadap pelayanan paliatif oleh seorang dokter adalah dengan melakukan manajemen gejala dimana pada tahap ini dibutuhkan koordinasi dan strategi yang mampu mengkolaborasikan informasi dari riwayat keluhan, status fungsional dan gejala utama melalui upaya investigasi sehingga lebih memperjelas tujuan pengobatan, memperkirakan prognosis dengan mengoptimalkan waktu yang terbatas oleh karena perubahan yang cepat dari kondisi pasien kanker terminal/tahap akhir.

Baca juga : Kesaksian Pengidap Kanker Yang Sembuh Di Siloam Hospitals Manado

Gejala fisik yang sering dialami oleh pasien kanker tahap akhir antara lain nyeri, konstipasi, mual dan muntah, sesak nafas serta kelelahan. Dibutuhkan evaluasi yang akurat oleh seorang dokter untuk menentukan etiologi dari gejala-gejala tersebut diatas karena biasanya terbatas pada anamnesa dan pemeriksaan fisik saja. Penilaian dari aspek psikologis pasien meliputi pemahaman terhadap penyakit yang mendasari, gejala, efek samping serta strategi penanggulanganya. 
Gangguan kejiwaan seperti depresi berat, bunuh diri, kecemasan, delirium dan gangguan tidur sering kali dialami oleh pasien, sehingga sebagai seorang dokter penanganan yang dilakukan harus diperluas dan bersifat komplementer yang melibatkan tim medis yang lain seperti psikiater. Salah satu bagian yang penting dari pelayanan paliatif oleh seorang dokter adalah meningkatkan kualitas psikososial pasien. Pengelolaannya, diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan sosial pasien secara efektif dan praktis yang melibatkan pasien bersama keluarga, termasuk berbagai faktor yang berhubungan dengan proses pengobatan. 
Sebuah kajian sosial yang komprehensif tentang penilaian kebutuhan sosial pasien menyimpulkan berbagai hal yang sering muncul selama proses pengobatan, meliputi struktur keluarga, komunikasi, akses layanan, beban keuangan, ketersediaan pengasuh atau pekerja sosial serta masalah lainnya seperti jaringan budaya dan status hukum. Seorang dokter harus mampu merangkul tim interdisipliner lainnya agar dapat mendeteksi kebutuhan spiritual dan religius pasien karena aspek spiritualitas sangat berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan pasien kanker tahap akhir disaat sekarat. 
Hampir 70% pasien dilaporkan menjadi lebih religius atau sangat spiritual, dan banyak diantara mereka menemukan kenyamanan dalam berbagai praktik agama atau spiritual seperti pelayanan doa dan ibadah bersama komunitas seagama. 
Penderitaan rohani dapat memperkuat jenis penderitaan lainnya, bahkan bisa berwujud sebagai nyeri fisik yang tak tersembuhkan, kecemasan, ataupun depresi.

halutsiana.com
Prof. dr. Linda W. Rotty, Sp.PD-KHOM, dan Dr. Harlinda Haroen, Sp.PD-KHOM
Dalam Sebuah Talk Show Di Siloam Hospitals Manado
Penilaian yang komprehensif seorang dokter Penyakit Dalam melalui pertanyaan yang telah diskiring sebelumnya, harus dapat mengetahui kebutuhan yang diinginkan sehingga dapat dilakukan intervensi berupa penyediaan layanan religi oleh rohaniawan yang juga termasuk sebagai anggota tim pelayanan paliatif. 

Dari kesemuanya ini tak dapat dipungkiri bahwa kasih dan keperdulian kita sebagai sesama manusia yang juga dapat mengalami hal yang sama terlepas bahwa kita berperan sebagai seorang dokter maupun mengambil peranan sebagai seorang pasien merupakan dasar utama pelayanan paliatif ini dapat berjalan. Karena kekuatan dan semangat untuk terus bertahan menjalani sisa kehidupan dari pasien dengan penyakit kanker tahap akhir juga bersumber dari kekuatan kita dengan cara merangkul mereka, menemani mereka berjalan bersama sampai Tuhan memutuskan kita untuk berhenti.
(Penulis: Prof. dr. Linda W. Rotty, SpPD-KHOM dan Dr. Darryl V. Tanod)/ Editor: ya2n

Post a comment

0 Comments