Ternyata Cinta Itu Sederhana, Hanya Membutuhkan Hati Yang Setia

HALUTSIANA.COM -Terima kasih sudah mengajariku bagaimana rasa sakit hati. Kau telah mengajari aku untuk berlaku setia pada cinta sejati. Kini kau telah pergi dengan tambatan hatimu, membawa semua yang kita tabur bersama.

Aku hanya bisa berdoa, semoga kalian bahagia. Jika benar kalian bahagia, tolong bagikan kebahagiaan itu untuk kedua putri kita. Jangan pernah kau melupakan mereka, pelukan dan kecupan hangat darimu mereka nantikan setiap saat.

Aku hanya ingin menulis tentang kamu. Tidak ada yang salah bukan? Biarkan cinta menempati kastanya sendiri, walaupun bukan dalam lontaran agung, tapi dihati yang perih.

Terima kasih sudah pernah mengajariku bagaimana cara mencintai. Jika kau berbohong, kau mengajariku rasa sakit jika dibohongi, jika kau menghianatiku, kau telah mengajariku rasanya dihianati, semuanya perih. Aku kini memahami, bagaimana rasanya jika kita menyakiti cinta.

halutsiana.com

Kau sudah mengisi-waktu beratus-ratus purnama bersamaku, tapi dengan satu rentang antara fajar dan senja kau menghianati cinta kita. Kau melakukan semua ini kala aku mulai hidup dalam alam kita berdua. Yah, hidupku yang baru.

Tapi, perubahanku tak ada artinya, kini kau telah tiada, meskipun demikian aku tetap berubah. Semua orang pasti mengenal masa lalu, yang aku jadikan itu sebagai buku yang berdebu diatas rak kehidupan.

Semua yang telah usai akan kembali pada muasalnya. Mungkin tidak ada yang lebih baik dari perjalanan kalian. Jika cinta itu tak berwujud, semua tentang memberi, mungkin ada balasannya. Bagiku, matahari tak berarti apa-apa, setelah kepergianmu cinta hanyalah kegelapan tanpa kehangatan.

Masih ku ingat masa disaat kita melayani jiwa-jiwa terhilang di Rumah Sang Raja, kita bahagia, tersenyum menyambut setiap jabat tangan. Aku ingin itu terulang lagi. Apa bisa? Jika aku masih diberi kesempatan untuk menunggumu, aku kan tetap menunggu, meski waktu itu tiba pada tujuh tahun penderitaan kedua.

Aku tetap menunggumu sampai kau bosan mencintai dia. Aku yakin, kehilangan kamu bukan ketiadaan tapi menyempurnakan pertemuan selanjutnya.

Aku menunggumu sebagaimana Tuhan menungguku, Dia menunggu sampai aku benar-benar kapok mencintai dunia.

Post a comment

0 Comments