Wahai Suami Istri Jangan Berpisah Demi Sebongkah Emas

HALUTSIAA.COM- Albert Enstein pernah berkata bahwa sebaiknya kita tidak belajar menjadi orang sukses, tapi kita harus menjadi orang yang bernilai, karena orang yang bernilai akan menjadi orang sukses.

Pernyataan si genius ini tentunya bisa menjadi inspirasi para suami yang sudah dikodradkan penjadi tulang punggung kehidupan keluarga. Karena begitu banyak kepala keluarga harus terpisah bermil-mil jauhnya dari orang yang dia cintai demi mengais rejeki.

Jika sebuah perpisahan ditakdirkan hanya untuk menggali bongkahan emas, ingatlah jangan biarkan tanah dari galian itu menimbun cinta yang sudah dibangun. Karena sesungguhnya yang bernilai itu bukan emas, melainkan cinta yang sudah diperjuangkan demi tercipta sebuah keluarga yang bernilai.

Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa emas itu hanya sebuah kesuksesan palsu, sedangkan keluarga yang utuh tetap bernilai dan harganya tak dapat ditukar oleh apapun.

Kesuksesan adalah usaha kita membangun keluarga yang bernilai di kolong langit ini, bukan menggali emas di perut bumi.

halutsiana.com
Ilustrasi Suami Istri (ISTIMEWA)
Hidup ini bukan untuk mencari dan mendapat sesuatu, tapi juga untuk memberi sesuatu yang bernilai dan menjadi sesuatu yang kita beri yaitu cinta. Suatu saat nanti perjalanan kita akan goyah, cinta kita akan koyak karena jarak bermil-mil dan waktu seribu purnama membuat hambar akan sebuah harapan.

Jika itu terjadi, cintailah dengan sabar seumpama mengurai benang yang kusut tanpa harus memutuskan benang itu. Jangan ada kebohongan lantaran seribu purnama terlewati tanpa pelukan, karena kepercayaan buat suani dan istri sudah jadi suatu ikatan erat dan tidak bisa melepaskan ikatan itu dengan kebohongan, maka jangan lakukan itu.

Kita hanya bisa menjerit dalam doa dengan lirih, dan menjaga kemurnian hati agar kesedihan dan perpisahan tidak mencuri kebahagiaan kita. Jika kita tidak mau mengorbankan dan melepaskan kesuksesan palsu, maka cinta yang bernilai tidak akan kita dapati.

Bagiku jarak terjauh kita adalah ketika kita tidak saling melihat wajah masing-masing hanya karena kita tidur saling membelakangi, bukan kita tidur berjarak puluhan pulau.

Tidak cantik seorang istri menunggu demi suaminya mencari emas, tidak tampan seorang suami mencari emas dan meninggalkan istri dirumah tanpa suami. Tak perlu mengikuti arus dunia, seperti ikan yang mengikuti arus adalah ikan yang mati.

Kita hanya saling menunggu waktu untuk bertemu, padahal waktu itu bukan detik demi detik, melainkan detak demi detak, waktu adalah detak jantung. Jika jantung kita berhenti berdetak, maka tidak ada lagi waktu untuk bersama. Tidak ada lagi waktu untuk tertawa bersama anak-anak.

Nafkah itu tidak jauh dari halaman rumah, yang terpenting kita bisa berusaha dengan rajin dan selalu dekat dengan Empunya Harta. Perlukah mencari nafkah di pulau sebrang?
(Ya2n/just my imagination)

Post a comment

0 Comments