Menggabungkan Potensi Otak Kiri Dengan Otak Kanan

Apa ciri-ciri orang yang pintar? Menurut hemat saya, orang yang pintar adalah yang orang yang mampu menggunakan kedua belah, atau sisi, otaknya, atau mampu menggabungkan potensi otak kirinya (otak matematika) dengan potensi otak kanannya (otak seni).
Otak kiri dan otak kanan? Apa pulalah itu? Penelitian paling mutakhir (sesungguhnya, di AS sudah ditemukan di akhir 1960an dan awal 1970an) terhadap kerja otak manusia menemukan, bahwa kedua sisi otak kita lain fungsinya (lihat Buzan 1983: 13-5).

halutsiana.com
Ilustrasi otak (ISTIMEWA)
Otak kiri (yang dapat kita sentuh dari luar dengan tangan kiri kita), adalah bagian otak yang kerjanya mengolah pengetahuan kita tentang bahasa, logika, angka-angka, urutan, linieritas, dan menganalisis. Untuk gampangnya, kita sebut saja, otak matematika. Sedangkan otak kanan (yang dapat kita sentuh dari luar dengan tangan kanan kita), adalah bagian otak yang kerjanya mengolah dan menyimpan informasi tentang irama, nada (musik), kesan (image), warna, dimensi. Itu otak yang dipakai untuk berimajinasi, buat ngelamun. Kita sebut saja, otak seni.

Diterapkan oleh jenius maupun orang kampung

Penemu-penemu terkenal, seperti Einstein yang menemukan rumus relativitas, serta ilmuwan-ilmuwan (maaf, kalau ada bias jender di sini), seringkali disangka adalah orang yang otak kirinya saja berkembang. Sedangkan seniman-seniman terkenal, seperti pelukis Picasso dan Cezanne, serta musikus-musikus terkenal, dikira orang hanya mengembangkan otak kanannya saja. Ternyata, penggalian lebih mendalam terhadap riwayat hidup orang-orang terkenal itu, menemukan hal-hal yang menarik: Einstein, justru tidak lulus matematika di sekolahnya, sedangkan hobinya, adalah menggesek biola, melukis, berlayar, dan melakukan permainan-permainan yang mengandalkan imajinasi.
halutsiana.com
Albert Einstein
Dia menemukan rumus relativitasnya, ketika duduk ngelamun di sebuah bukit di siang hari musim panas, sambil membayangkan dirinya menunggangi sinar matahari sampai batas-batas antariksa, sampai dia menyadari, bahwa antariksa itu melengkung. Rumus-rumus, angka-angka, persamaan, dan kata-kata yang menggambarkannya melahirkan rumus relativitas, E = mc2 (energji = massa x pangkat dua dari kecepatan cahaya), suatu penggabungan kerja otak kiri dan otak kanan (Buzan 1983: 15).

Masih banyak contoh ‘orang besar’ di masa lalu, yang dapat kita sebutkan, yang karyanya merupakan hasil penggabungan kerja otak kiri dan otak kanan. Misalnya, Leonardo da Vinci, yang bukan Leonardo di Caprio, dan juga bukan pengarang da Vinci code. Dia sangat menonjol di berbagai bidang, yakni seni, ukiran, fisiologi, IPA secara umum, arsitektur, mekanika, anatomi tubuh manusia, fisika, dan juga seorang penemu (inventor).

Jangan keliru, bukan cuma para genius sekaliber sekaliber Einstein dan Leonardo da Vinci, yang menggabungkan kerja otak kiri dan otak kanannya. Seorang ahli ethno-matematika, Paulus Gerdes, yang meneliti bagaimana rakyat pedesaan di Mozambique, Afrika, membuat jala, membangun rumah, menganyam tikar, yang sarat dengan penerapan rumus-rumus matematika, seperti rumus Pythagoras. Didasarkan pada pengamatannya terhadap seni rakyat Mozambique itu, serta pedagogi Paulo Freire, dia menyimpulkan bahwa pelajaran matematika bagi rakyat pedesaan akan lebih efektif, kalau berangkat dari apa yang sudah diketahui dan dijalankan oleh rakyat di sana. Bukan semata-mata berpegang pada buku-buku teks dari luar (Gerdes 1985a, 1985b, 1986, 1987, 1988).

Jadi di sini dapat kita lihat, bahwa penggabungan otak kiri dan otak kanan, juga dilakukan oleh rakyat pedesaan yang tidak berpendidikan tinggi. Hal yang sama seperti yang diteliti Gerdes di Mozambique, dapat dikatakan tentang berbagai kesenian rakyat di Tanah Batak. Perempuan-perempuan Batak yang menenun ulos, memadukan perhitungan matematis dengan selera seni mereka yang tinggi. Lelaki Batak yang merajut jala, untuk menangkap ikan di Danau Toba, juga memadukan matematika dengan seni merajut. Atau, pada saat pembangunan rumah, lumbung, tugu, semuanya memadukan pengetahuan matematika rakyat dengan selera seni rakyat.

Mengakhiri Perceraian Otak Kiri dan Otak Kanan

Dalam sistem pendidikan menengah di negara kita, otak kiri dan otak kanan dipaksa ‘bercerai’, sejak kita tamat dari sekolah dasar dan masuk sekolah lanjutan, akibat polarisasi antara IPA dan IPS. Ini masih lagi ditambahi dengan konotasi, atau bahkan stigma, bahwa yang masuk IPA dianggap merupakan anak-anak pintar, sedangkan anak-anak yang masuk IPS, dianggap kurang pintar alias bodoh. Padahal, anggapan itu tidak betul. Bisa saja anak yang punya IQ tinggi masuk ke IPS, kalau dia memang lebih menyenangi ilmu-ilmu sosial. Sedangkan yang punya IQ kurang, tapi kuat dompetnya, masuk ke IPA.

Pemisahan yang begitu drastis semacam itu, sudah lama dihindari di negeri-negeri maju, seperti di AS, dengan dua jalan. Pertama, dengan memadukan unsur IPA dan IPS dalam kurikulum, yang di sana memang tidak begitu padat dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan hafalan dan indoktriner seperti di Indonesia.

Di New York pada sebuah universitas, Cornell University, jumlah mata pelajarannya bisa dihitung dengan jari-jari di satu tangan. Ada pelajaran IPA gabungan, ada pelajaran bahasa asing, di samping pelajaran bahasa Inggris, dan ada pelajaran Global Studies,  yang lebih cenderung mengarah ke IPS.

Teknik kedua untuk memadukan unsur IPA dan IPS adalah dalam science project,  di mana siswa diminta membuat suatu presentasi, dalam tiga dimensi, disertai dengan teks narasi, tentang benda yang dipilihnya untuk science projectnya.

Metafora, sebagai bentuk penggabungan karya Otak Kiri dan Otak Kanan:
Lepas dari betul-tidaknya korelasi antara IQ dan kepintaran, perceraian antara otak kiri dan otak kanan itu sudah patut diakhiri, supaya kita dapat mengoptimalkan kerja otak kita. Ada juga manfaat-manfaat yang lain. Manusia, umumnya tidak semata-mata berfikir secara logis, secara linier, tetapi seringkali justru secara analogis, secara imajiner. Lihat saja, kebiasaan manusia untuk menggunakan metafora, kata-kata kiasan, yang merupakan cara manusia mengasimilasi informasi baru dengan informasi yang sudah kita miliki.

Salah satu contoh perpaduan otak kiri dan otak kanan adalah suatu penggambungan pemikiran menjadi lebih dari satu pengertian. Contoh yang paling populer, menyangkut “ayam”. Tulisan yang jelek, disebut seperti “cakar ayam”. Kamar kos yang berantakan, disebut seperti “kandang ayam”. Tidur di kelas waktu kuliah, disebut “tidur-tidur ayam”. Orang yang semangatnya cepat kendor, disebut “panas-panas tahi ayam”. Mahasiswi yang mencari tambahan pendapatan dengan menjual jasa seks, disebut “ayam kampus”. Kalau di luar kampus, disebut “ayam kampung”. Bahkan keberanian, juga dikaitkan dengan ayam, khususnya ayam jantan, alias “jago”.



Post a comment

2 Comments

  1. Mantap kang artikelnya tentang otak kanan. Sangat menambah informasi lagi buat saya ini. Informasi tentang otak kanan saya jadi bertambah. hehehe. Tapi Kang saya ingin tanya bagaimana cara untuk melatih otak kanan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artikelnya menyusul ya.. terimakasih sdh membaca artikel ini

      Delete

Dilarang Berkomentar dengan menggunakan unsur-unsur SARA atau mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk apapun.