Sejarah Universitas Harvard dan Filosofinya

halutsiana.com
Harvard University (HU), sebuah universitas di Cambridge, Massachusetts menjadi impian hampir setiap akedemi dunia. Tidak hanya bertaburan alumnus dan profesor bintang, tapi juga memfasilitasi lahirnya teori-teori hebat seperti The Balanced Scorecard;nya Robert S. Kaplan dan David P. Norton dan konsep Blue Ocean milik W. Chan Kim dan Renee Mauborgne. Universitas swasta yang termasuk satu dari universitas pendidikan tinggi dan korporat tertua di Amerika yang didid rikn oleh badan legislatif.

Hingga saat ini, Harvard University terus berkomitmen mencari kebenaran, mengembangkan keilmuan khusus melalui fakultas, beberapa diantaranya sangat dikenal adalah Art and Sciense, Medicine, Divinity School, Business School dan Havard Kennedy School of Goverment yang terus dikembangkan hingga saat ini. Luar basa! Jika biasanya sebuah universitas memiliki satu atau beberapa pusat riset, Harvard University memiliki beberapa pusat riset, Broad Institute of MIT And Harvard, Harvard Institute of Economic Research, Havard Ukrainan Research Institute, Institute For Quantitative Social Science, Radcliffe Institute For Advanced Studies dan Schepens Eye Research Institute.

The Beginning
Harvard University sudah menunjukan krediblitasnya sebagai tempat menempa ilmu dengan bertahan dan bertumbuh sejak tahun 1636. Harvard University dididrikan melalui voting Great And General COurt of The Massachussets Bay Colony. Nama Harvard diambil dari John Harvard, dermawan pertama Harvard University sekaligus menteri muda Charlestown yang meninggal pada tahun 1638 dan meninggalkan warisan perpustakaan dan sebagian bagunannya untuk institusi pendidikan Harvard University.

Awalnya Harvard University mengadopsi modelpendididkan Inggris yang dipadukan dengan filosofi puritan. Namun Harvard University tidak menekankan basis agama khusus. Tahun 1869-1909, presiden Harvard, Charles William Elliot wajah Harvard University menjadi modern research university. Charles memperkenalkan sistem pemilihan mandiri materi, kelas kecil dan ujian yang akhirnya banyak diadopsi lembaga pendidikan Amerika.

Sejak tahun 2000, Harvard University mulai me-launch Harvard Green Campus Initiative (HGCI). Proyek sukses ini disebut satu dari 26 sekolah yang mendapat poin A dari Sustanability Report Card 2010 sebagai penghargaan tingkat tertinggi.

Veritas Sebagai Dasar
Sederhananya, Veritas berarti kebenaran (the truth). Dalam mitos Romawi, Veritas merupakan sebutan Dewi Kebenaran putri Dewa Saturn, kata ini juga muncul dalam slogan motto unversitas Indiana, Yale dan California State. Sepertinya kebenaran merupakan satu pencapaian yang dirindukan dalam dunia pengetahuan dan pendidikan tinggi. Sebuah sumber menjelaskan asal mula moto Harvard University yaitu, "veritas Christo et Ecclesiae" ( Truth For Christ And The Church) yang intinya kebenaran sebagai dasar segala ilmu pengetahuan dan pembelajaran.

Dibangun Dengan Idealisme
Harvard University sudah berumur lebih dari 300 tahun. Bukan suatu perjuangan yang gampang. Disinilah justru idealisme value dn sejarah besar dibangun. Inilah sebuah gambaran nyata tentang pengelolahan sebuah pendidikan tinggi, bukan dibangun sekejap dengan prinsip kapitalisasi atau komersialisasi semata. Harvard University awalnya dibangun dengan hati dan kepedulian para donatur, yang dipelopori oleh Jhon Harvard. Sebuah pendidikan tinggi yang hebat tidak hanya mampu membangun fasilitas mewah, tapi lebih dari value berbasis veritas/kebenaran.

Memfondasikan kebenaran dalam hidup, itu poin mulia yang dapat kita pelajari dari filosofi Harvard University. Kebenaran merupakan kerinduan setiap orang. Dalam kehidupam modern dan demokrasi banyak teori, konsep, filosofi an keyakinan baru yang dijadikan kebenaran. Dalam dunia pendididkan, banyak teori muncul, kemudian digugurkan karena kebenaran bukan sesuatu yang mutlak dalam ilmu pengetahuan, semuanya dapat diperdebatkan dan digugurkan.

Kebenaran itu sederhana. Tanyakan kembali pada hati kita masing-masing, apa itu veritas? Jika veritas itu diartikan sebagai kebenaran sejati dan mutklak, maka itu hanya bersumber pada Tuhan. Lalu dimanakah Tuhan? Apakah Dia berada pada sekolah ternama? Apakah Dia ahanya ada di tempat ibadah? Tidak harus pergi ke barat untuk mencari pengetahuan atau ketimur untuk mencari kebijaksanaan. Cukup mencari Tuhan karena Tuhan Sumber Pengetahuan dan Kebijaksanaan. Ia ada dalam diri kita, jika kita mau membuka pintu hati dan mempercayainya, maka kita akan mudah menerima pengetahuan dan kebijaksanaan.

Post a comment

0 Comments