Ketika Sindrom Ketakutan Terhadap Trump (Trumpphobia Syndrom) Mewarnai Dunia

Pada dasarnya ideologi sebuah negara, dibangun dari norma-norma keagamaan, meskipun pada kenyataannya negara bukanlah agama dan agamalah bukan suatu negara. Negara mempunyai undang-undang sendiri dan bukan hasil Copy-paste dari hukum yang ada dalam agama, tetapi nilai dari suatu konstitusi suatu negara tentunya dibangun dari nilai budaya dan agama dari negara tersebut. Contohnya negara-negara Arab dapat dilukiskan dengak keterkaitan nilai Islam, Cina memiliki nilai Kon Hu Cu, India dengan Hindu, Burma dengan Budha dan masih banyak lagi nilai-nilai keagamaan melekat pada undang-undang dasar sebuah negara, bukan agama dijadikan konstitusi, norma agamalah yang melandasi sebuah negara. 

Dapat digambarkan, pada revolusi Amerika 1776, keterikatan Amerika dengan Protestan tak ubahnya kelekatan Islam dan Timur Tengah. Panganut Katolik pada masa itu tak lebih dari 2,5% total penduduk. Sedang penganut Yahudi tidak mencapai seribu orang. George Washington membangun AS dengan norma-norma protestan yang tinggi. 

Persaingan perkembangan agama Kristen Katolik dan Katolik merembet pada kehidupan politik bangsa besar Amerika Serikat (AS). Maka muncul pembunuhan terhadap Jhon Kenedi yang merupakan Presiden Katolik pertama. Pembunuhnya bukan teroris dari arab, tetapi seseorang yang tidak mau negaranya dipimpin oleh seorang Katolik, meski demikian hingga saat ini yang diketahui oleh publik AS, bahwa Kennedy dibunuh oleh perseorangan tanpa mengetahui kelompok dibelakangnya, padahal pada saat itu sentimen Katolik-Protestan sangat tinggi.

Saat ini AS merupakan negara dengan sistem demokrasi yang tinggi. Perbedaan agama sangat jarang ditemukan di AS, terutama agama Protestan dan Katolik. Keduanya bersatu menjalani sendi-sendi kehidupan tanpa adanya perbedaan. Hingga AS tiba pada era baru, yaitu era kebebasan dengan presiden kulit hitam pertama dan presiden beraganma Katolik kedua dan terlama. Namun tanpa disadari oleh para agamais, Obama menjadi musuh dalam selimut. Melegalkan ribuan klinik aborsi yang sudah dilarang oleh presiden-presiden sebelum, menyetujui perkawinan sesama jenis dan beberapa program Iluminati dibuat oleh Obama.

halutsiana.com
Sorak sorai pendukung Trump (sumber gambar: independen.co.uk/)
Salah satu program Obama yang kontroversi dan mendapat banyak kritik adalah program Obamacare. Program ini sangat membantu para gelandangan dan tunawisma AS. Biaya kesehatan dan biaya lainnya untuk mengurangi kemiskinan merupakan program blunder yang dibuat Obama. Obamacare membantu para gelandangan, tuna wisma dan pemakai narkoba melalui biaya hidup yang mereka terima setiap bulan. Secara langsung, Obama telah menanam mental gratisan pada masyarakat AS dan mengajarkan mereka untuk tidak bekerja. "Toh negara yang membiayai kita" pikir mereka.

Bukan hanya itu, Obama juga diduga kuat membangitkan kelompok Iluminati dengan cara mendukung semua program mereka. Kebebasan yang dinginkan kelompok ini adalah kebebasan yang sangat jauh dari nilai-nilai AS yang pernah dibangun oleh para Founding Father. Seperti diketahui, sejak Obama menjadi presiden, undang-undang tentang legalisasi aborsi menyebabkan jutaan janin terbunuh setiap tahunnya. Perkawinan sejenis sudah menjadi budaya karena sudah menjadi hak dan kebebasan bagi negara itu.

halutsiana.com
Pendukung Hilarry bersedih saat jagoannya kalah
(sumber gambar: independen.co.uk)
Efek domino dari kebijakan ini adalah Dolar Amerika terseok-seok dan mulai menekan segala pilar negara adi daya ini. Iran, Rusia dan sekutunya pernah menyebutkan bahwa Amerika bukan lagi negara adi daya jika dibandingkan dengan Rusia. Perkembangan senjata Nuklir Amerika jauh dibawah Rusia. Itulah sebabnya Rusia sangat berani menantang AS dan NATO untuk berperang.

Ketakutan Masyarakat Islam Terhadap Trump

Tanggal 9 November 2016 adalah hari bersejarah bagi AS, dimana pada hari ini masyarakat AS melakukan pesta demokrasi untuk memilih presidennya. Dunia pun tercengang atas kekalahan Hilary Clinton. Trump yang menjadi presiden paling kontrovesi di AS terpilih menjadi presiden membuat para pendukung Obama yakni kaum LGBT, pendukung aborsi dan para pemakai narkoba menjadi was-was. Selain itu, masyarakat muslim AS dan dunia pun dibuat khawatir atas terpilihnya Trump menjadi presiden Amerika. Pada saat kampenye, salah satu statement kontroversi Trump adalah menutup semua mesjid di AS dan melarang imigran asal Syria masuk Amerika.

Atas tekanan masrakat dunia, Trump menglarifikasi pernyataan ini, bahwa sesungguhnya yang dimaksud Trump bukan menutup seluruh mesjid, tapi menutup mesjid yang mempunyai kegiatan-kegiatan radikal dan menyeleksi setiap imigran yang sambangi AS. Meskipun demikian, kaum muslim Amerika sudah terlanjur takut dan marah terhadap Trump.

Wakil presiden Indonesia, Jusuf Kalla pun berpendapat bahwa dunia akan kacau jika Trump terpilih lagi. "Ya, kalau Trump wah kelihatannya susah itu. Dunia nanti juga jadi susah. "Tentu orang mengharapkan banyak kepada Hilarry, tapi nanti kita tunggu saja besok", ujar Kalla, seperti yang diberitakan oleh kompas.com.

Di tengah kekhawatiran banyak orang, tidak sedikit pakar juga memprediksikan bahwa Trump akan merangkul masyarakat Islam untuk membangun perdamaian dunia. Hal itu tentunya sangat beralasan karena pada saat ini, situs kampanye Trump, sudah menghapus semua kebijakan dan janji yang menyudutkan muslim internasional.

Israel Bergembira Trump menjadi presiden

Menteri Pendidikan Israel, Naftali Bennet mengatakan bahwa, ide mendirikan negara palestina akan berakhir dengan terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika saat ini. Trump bahkan akan mengajak Israel untuk perangi ISIS bersama. Rupanya Trump tahu persis bahwa pengaruh Yahudi sangat penting untuk mendongkrak perekonomian Amerika dan melindungi semua bisnis Trump didunia. Jika benar motivasi Trump dalam bekerja sama dengan Israel hanya untuk perdamaian dunia, maka hal itu pasti didukung oleh dunia Internasional. 

Terlepas dari semua yang ditakuti dunia, kita juga harus berpikir bahwa keterpilihan seorang pemimpin tidak terlepas dari kehendak yang Maha Kuasa. Untuk itu, jika ini kehendak Tuhan, siapa yang dapat melawan? Tidak perlu takut terhadap Trump, yang perlu ditakuti adalah terbelahnya persatuan dan kesatuan bangsa hanya karena perbedaan pendapat.

Penulis: Yayan Pieter, Seorang blogger ingusan

Post a comment

0 Comments