Menyulam Masa Lalu

Pada suatu malam yang rinai, seorang pria datang di sebuah rumah yang sederhana, tempat persinggahan angin dan rimbunnya pohon kebijaksanaan, tempat bermain bunga-bunga kecil pada kampung yang teduh.

Tempat  dimana seorang wanita sedang menikmati secangkir teh hangat kehidupan. Ya.... Rumah yang damai, rumah itu disebut.

Pria itu datang bertamu tepat saat pemilik rumah sedang asyik menikmati teh kehidupan.

‘’Permisi, boleh aku masuk Ibu?’’ tegur pria itu dari depan pagar. Wanita si pemilik rumah menoleh  ke pria yang sedang memegang pagar yang terbuat dari belahan bambu  dan wajah penuh sepi serta raut yang haus rindu.

“Boleh, silahkan masuk !” Sambil mendorong pelan meja tempat secangkir teh diletakan agar bisa berdiri dan mempersilahkan tamu tak diundang untuk masuk.

Pria yang sesekali menyeka peluhnya menggunakan telapak tangan yang kotor tak menunggu lama dan segera menyambut kebaikan seorang wanita dewasa baik hati nan cantik itu.

"Sebelumnya saya meminta maaf karena telah menggaggu pada waktu yang tidak tepat Bu.” jelas pria itu dengan suara lembut sambil menundukan kepala seolah malu menatap wajah ayu pemilik rumah.

“Tidak apa-apa, dan jangan panggil aku ibu karena aku belum menikah, panggil saja Yani”. Sahut wanita itu.

“Kalau boleh saya tahu, apa yang menyebabkan kamu sampai datang kemari?” Tanya Yani, sambil memandu tamunya masuk dan berjalan menuju beranda dimana ada sebuah meja tempat teh panas diletakan.

“Saya mendengar bahwa anda sangat pandai merajut rindu dan menyulam kasih.” Jawab pria itu sambil mengeluarkan KAIN YANG SUDAH LUSUH dan menunjukan pada Yani.

"Saya berkehendak hati untuk meminta pertolongan anda untuk menyulam kembali kasih dan merajut kerinduanku.” Pinta pria yang memiliki senyum manis namun raut wajah dan sorotan mata yang tajam tak bisa menyembunyikan hatinya yang penuh iba.

“Baiklah, saya akan membantu, tapi anda bisa datang 1 tahun kemudian, ini sangat sulit jadi aku butuh waktu.” Jawab Yani sambil berusaha meyakinkan pria itu.

“Terima kasih atas bantuannya.” timpal pria misterius itu.

“Iya, sama-sama’’.  Tutur Yani dengan memberi harapan yang diyakininya bukan harapan palsu.

Lalu dia pun pamit, meninggalkan Yani yang masih memegang sehelai kain yang sudah koyak bersama segelas teh di atas meja. Dia menghilang pada jalan setapak malam. Yani lalu memandangi kain tersebut, memperhatiakan kisah dan rindu yang sudah tua dan kusut.

"Terima kasih, sudh melepas dahaga aku," kata pria itu dalam hatinya, sambil berdiri untuk kembali arungi perjalanan panjang.

Yani pun balik ke arah malam dengan raut yang berkerut karena merasa ada sesuatu yang lupa dia tanyakan. Dia lupa menanyakan nama pria tadi. Tapi pria misterius itu sudah tidak kelihatan karena tenggelam bersama pekatnya malam.

Dari kejauhan Yani terus memandang pria tegap itu dan semakin mengecil ditelan malam, namun pandangan tanpa kedipan terus mengikuti arahnya.

Pria tanpa nama tadi membuat sebuah pertanyaan hadir dalam benak Yani, apakah dia adalah masa depan atau masa lalu ?



Satu tahun Kemudian kemudian:

Satu tahun adalah waktu yang lama. Berbagai kisah episode demi episode harus dilalui oleh baik Yani maupun pria tadi.  Namun yang terlahir dari sebuah misteri akan tetap menagih janjinya untuk kembali mengambil kain kehidupannya.

“Apakah kisah dan kerinduan saya sudah selesai ?” Tanya pria itu pada Yani.

“Iya, ini, coba lihat,” jawab Yani sambil menyerahkan kain.

Yani pun menawarkan masuk dan memberi secangkir air, pria itu meminumnya hanya sekali meneguk, tandanya dia sangat haus karena perjalanannya menghabisi siang nan terik.

Merekah senyum manis pada wajah pria berkulit hitam.

“Terima kasih...terimakasih... anda sudah merajut dan menyulamnya untukku.”

“Iya, sama-sama.” Jawab Yani singkat.

“Kalau begitu saya pamit , semoga bisa bertemu di lain kisah.” Jelas pria itu penuh harap.

“Iya, semoga saja.”Jawab Yani.

"Bila kesusahan menimpahmu, jangan lupa datang pada aku, meski hanya untuk saling memikul beban," timpal Yani.

Pria itu kemudian pamitan dan berbalik pada malam yang menuntunnya, juga gelap yang sama pernah menuntunnya saat datang pertama kali pada Yani si wanita penolong yang membantu perbaiki kisah yang lusuh.

Baru beberapa langkah melewati pekarangan, Yani memanggil dan bertanya, “hei, kalau boleh saya tahu, siapa nama Anda?”

Terhenti sesaat karena suara Yani yang memecah kesunyian kemudian dia membalikan wajah serta punggungnya dengan senyum khasnya dia menjawab:

"Nama saya Yayan.”

Yayan pun berlalu dengan malam, menepi bersama senyap, pergi bersama rindunya, tapi lupa membawa kisahnya yang tertinggal di atas meja.

Kisah itu akan dikenang sepanjang hidup oleh Yani, Yayan, Bunga dipekarangan dan Malam yang menuntun. Hingga siang datang dengan terik untuk membuat dahaga setiap jiwa, agar hati yang haus akan kasih, mencari air yang menyejukan jiwa.

Post a comment

0 Comments