Jangan Ciptakan Surga Di Bumi Dengan Kebencian

Keunikan Indonesia sebagai bangsa dengan tingkat toleransi tertinggi diantara bangsa-bangsa didunia adalah suatu kebanggaan bagi seleluruh warga negara yang memakai jargon Bhinneka Tunggal Ika. Suku bangsa, ras dan agama merupakan suatu anugerah Sang Khalik yang tidak perlu dikerdilkan bahkan dinodai oleh kepentingan kelompok tertentu demi menutupi rasa lapar akan harta duniawi.

halutsiana.com
Kedua anak ini sedang berdoa dengan keyakinan masing-masing
(Foto: Piet Hein Pusung/ facebook.com)
Sejatinya Indonesia merupakan sebuah negara yang disegani oleh oleh bangsa-bangsa lain didunia, bukan hanya karena memiliki sumber daya alam yang mumpuni dan mampu memberi makan setiap penduduknya, tetapi bangsa ini dikenal kuat karena pancasila yang merupakan nadi rakyat Indonesia.

Kejayaan Indonesia karena rakyat yang humanis dan memiliki Sumber Daya Alam juga pernah dimiliki negara-negara beradab di jazira Arab. Sebut saja Syria, sebuah negara mayoritas muslim dengan kekayaan minyak dalam perut bumi mampu memberi kesejateraan yang cukup, meski berpuluh tahun dikelilingi oleh negara-negara yang terus mengacungkan senjata untuk perang.

Apakah kita butuh Wonder Woman untuk mengakhiri perang?
Dalam film Wonder Woman yang dibintangi oleh Gal Gadot, wanita berkebangsaan Israel, menceritakan bagaimana usaha Wonder Woman mengakhiri Perang Dunia ke II. Film yang berlatar belakang mitologi Yunani ini mengungkapkan bahwa, untuk menhakhiri sebuah perang seseorang harus membunuh dewa perang atau dewa Ares. Ares dalam cerita film ini disebut sebagai biang dari seluruh perang didunia ini. 

Namun Gal Gadot salah dalam pemahamannya tentang perang modern dan mitologi Yunani. Terlepas dari hal itu, Dewa Ares adalah personifikasi dari iblis yang bertugas mengacaukan dunia dengan perang. Lantas, apakah kita membutuhkan Woder Woman untuk menghilangkan perang? Sekali-kali tidak, karena perang hanya dapat dihilangkan dengan cinta sejati, bukan dengan mengangkat senjata.

Saya melihat indahnya kebersamaan jika dijalani dengan tidak menutup mata. Maksud saya begini, jika kita mencintai saudara-saudara kita yang tidak seiman, sebaiknya kita tidak menutup mata dengan perbedaan yang kita alami dengan saudara-saudara kita. 

Janganlah terkonsep dengan kalimat "cinta itu buta" karena jika cinta itu buta, kita tidak akan melihat setiap perbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Tahukah kalian bahwa ayah dan ibu kalian menikah bukan karena buta, tapi karena mereka menyingkirkan semua pemikiran negatif sehingga mereka bisa saling cinta dan akhirnya menikah. Begitu pula sebaliknya, jika ayah dan ibu kita saling melihat sisi negatif masing-masing, maka hanya kebencian yang berujung pada perceraian yang akan merusak sebuah rumah tangga. 

Konsep negara penuh kedamaian harus dimulai dari sebuah keluarga. Memang keluarga bukanlah negara, akan tetapi terciptanya kedamaian pada sebuah negara akan terwujud jika mulai dari keluarga. Mari didik anak-anak kita dengan tidak menutup mata mereka dengan perbedaan yang dimiliki orang lain. Ajari mereka untuk mengelolah perbedaan itu sebagai suatu anugerah yang harus dinikmati.

Kekerasan terjadi karena ketakutan terhadap neraka?
Saya sangat bingung dan sulit menerima ketika seseorang berkata bahwa dia membunuh karena mengikuti perintah Tuhan. Jadi pertanyaan, apakah Tuhan sebagai sosok pribadi yang suka dengan kekerasan? Kalau Tuhan menciptakan kita karena cinta, mengapa kalian menghancurkan ciptaanNya dengan kebencian? Apa yang mendasari orang-orang melakukan kekerasan atas dasar agama?

Manusia dengan segala kekurangannya tidak akan mampu menciptakan keadaan dibumi seperti disurga tanpa cinta. Mereka yang membunuh sambil berteriak nama Tuhan mau membuat suasana dunia seperti surga. 
Mereka tidak mau ada dosa sekecil apapun dibumi, padahal dunia ini sudah berlumur dosa sejak Nabi Adam ada dan terjatuh dalam kubangan dosa. Lantas apakah kita harus membesihkan dosa didunia dengan membunuh setiap orang-orang yang dianggap kafir, yang notabene disebut sebagai orang-orang pembuat dosa?

Orang-orang yang tergabung dalam organisasi yang ingin mendirikan negara Khilafah seperti ISIS, tidak mengakui bahwa yang bisa tinggal di bumi selain mereka, juga orang-orang yang dianggap kafir. Saking ingin membuat bumi seperti disurga, mereka memperbudak wanita sebagai pemenuhan nafsu birahi. Toh, di Surga juga disediakan bidadari-bidadari cantik untuk mereka yang katanya berjuang dijalan benar. 

Itulah konsep surga bagi mereka, sehingga tidak ada rasa bersalah mengubah semua yang ada dikolong langit menjadi seperti di surga. Dunia tetap dunia, kita tidak bisa mengubah suasana didunia seperti disurga tanpa Cinta. Kita tidak bisa mengatasnamakan agama untuk membasmi kesalahan dan keberdosaan manusia dengan cara membunuh.

Orang seperti Gus Dur, Ahok, Soekarno dan tokoh-tokoh pencinta damai sepakat meyakini bahwa dunia ini hanya sebagai ladang untuk menginventasi kebajikan dan kebenaran untuk mendapatkan surga, bukan mendapatkan surga dari membunuh dan kebencian.

Para pengacau negara yang sering mengatasnamakan agama tidak suka dengan perbedaan. Mereka tidak belajar saat Allah membuat pembeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Beda bahasa, beda pola pikir sengaja diciptakan Allah supaya manusia tidak menjadi sombong seperti pada saat manusia membangun menara babel sebagai simbol perlawanan terhadap Sang Pencipta.

Ajarkan pada anak cucu kita, bahwa cinta itu tidak buta, cinta itu tidak seperti lirik lagu Bon Jovi; "Bed Of Roses" yang mengatakan bahwa "baby, blind love is true." Jika cinta itu benar-benar buta maka kita mencintai karena kita buta. Tiba saatnya mata kita melek, maka perbedaan yang kita lihat akan menjadi sumber keretakan sebuah hubungan sosial.

Post a comment

0 Comments