Surat Terbuka Dari Maluku Untuk Perdana Menteri Israel Dibacakan Chiko Jerikho

Aktor utama film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku Chiko Jerikho menulis surat kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.  Ia membacakannya di hadapan sekitar seribu orang yang memadati lokasi Gong Perdamaian Dunia di jantung kota Ambon, Maluku, Sabtu (12/7/2014).

Berikut ini selengkapnya surat tersebut:

Pesan Pendek Kepada Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu Di Tanah Perjanjian

halutsiana.com

Kabar anope’e?
Iya iyao?
Beta tahu, tuan orang istimewa. Harta bertumpuk, pangkat besar, jabatan tinggi. Tuan sangat terkenal, pengaruh kuat di timur-barat, utara-selatan.
Beta tahu, tuan sangat disegani, ditakuti. Kata-kata tuan laksana ultimatum, borgol, palu, godam, tank, roket, pesawat tempur, peluru.

Tapi dari pada beta menyapa Tuan Benjamin Netanyahu yang mulia dan terhormat, lebe bae, beta panggil saja nama kecilmu yang manis: “Bibi”

Bibi, malam ini katong ada di sekitar gong perdamaian dunia. Kalau Bibi ada di sini, ale bisa lihat sinar mata damai, terpancar dari nona dan nyong Ambon Manise. Sebab katong di sini suka damai. Katong pung kota Ambon adalah kota damai.

Tapi anak-anak perdamaian di kota ini, sedang dilanda duka dan cemas terhadap darah yang terus tumpah di Bumi Gaza. Kami saksikan di layar memori kami, perempuan memeluk bayinya di atas pasir, di tengah hamparan jenazah. Sungai Yordan sudah terluka dan menangis darah karena tentara-tentaramu merampok riwayat hidup mereka.

Beta bale heran, Bibi bikin apa saja di sana? Apakah Bibi terlalu sibuk berlibur dengan Noa Netanyahu, si putri sulung. Atau sedang bermain api dengan dua anak lelakimu, Yair dan Avner Netanyahu?

Begini saja! Kalau Bibi punya hati, sempatkanlah waktu datang ke Maluku. Supaya Bibi bisa berkenalan dengan beta punya adik-adik yang luar biasa.

Beta punya adik bernama Sani Tawainella, tukang ojek. Dia hanya seorang bekas bintang sepakbola yang gagal dan kalah. Dia tinggal di kampungnya yang dilanda perang saudara. Dia tidak punya apa-apa dibanding dirimu, Bibi. Seng ada uang, seng ada susu dan madu, seng ada anggur dan kurma. Hanya ada sagu satu lempeng yang harus dipatah jadi dua.

Tapi Sani Tawainella punya harapan yang tumbuh dari kehancuran. Dia menyusun harapan itu dari butir-butir arang dan abu, lalu membesar, membesar dan terus membesar.

Sani telah menuntun adik-adiknya, anak-anak perang, menjadi anak-anak perdamaian. Anak-anak kalah dan terpuruk, menjadi anak-anak yang lebih tinggi dari pemenang. Bibi, ale harus tahu itu.

Ah, Bibi. Kalau datang di sini, ale bisa melihat cahaya matahari di mata Alvin Tuasalamony, Jago Lestaluhu, Salembe Ohorella, Fingky Pasamba, Fangky Pasamba, Akbar Marasabessy, Kasim Tuasalamony dan semua Pattimura muda yang yang berdiri teguh sebagai tiang utama di republik yang sangat kami cintai ini.

Maka dari kota dan pulau kami yang kecil ini, kami mengirim harapan besar yang lebih luas dari Laut Banda dan Laut Arafuru. Bahwa Bibi, kalau ale punya hati, berhentilah berjudi di jalur gaza, tepi barat dan semua jengkal tanah Israel-Palestina.

Jangan biarkan peluru dan mortir menghancurkan tubuh-tubuh Palestina, sebab tubuh mereka adalah tubuh kami juga. Di tubuh mereka yang hancur itu, ada jiwa-jiwa suci yang tidak bisa ale reproduksi dengan otoritas teknologi secanggih apapun. Sebab di mata Tuhan, ale kecil, Bibi. Bahkan lebih kecil dari pada setitik debu.

Bibi e... Ale pasti kenal Anwar Sadat dan Manachem Begin, dua tokoh perdamaian dunia dari Mesir dan Israel. Berziarahlah ke makam mereka, supaya ale tahu, apa arti sebuah perdamaian. Apa arti tubuh, apa arti nyawa.

Tapi kalau ale tidak juga mengerti, izinkan beta pergi ke Tel Aviv, Jerusalem, Jerikho, Gaza, West Bank dan semua kota dan kampung. Beta mau tayangkan sebuah film sederhana: Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Nah, ale bisa belajar dari Sani Tawainella dan bintang-bintang kecil yang beta ceritakan tadi.

Dengan begitu, Israel-Palestina bisa hidup rukun dan damai seperti minyak yang harum. Salam, Sarani, Yahudi, dan semua golongan bisa sembahyang dengan tenang di kota-kota suci, tempat para nabi pernah meninggalkan jejaknya. Beta bisa bawa satu tim sepakbola bermain di padang gurun melawan kesebelasan Israel dan Palestina dalam sorak-sorai dengan gemuruh perdamaian, tanpa deru pesawat tempur dan letusan meriam.

Catatan ini beta kirim dari Ambon, di pulau kecil di tengah laut biru. Semoga jiwamu terharu, wahai Natanyahu. Pergilah ke Gaza, ambil lenso, apus air mata dan darah yang mengalir di sana. Mereka hanyalah anak-anak dan perempuan-perempuan sipil yang perlu kemerdekaan dan perdamaian abadi.

Salam damai dari beta. Syalom!

Ambon, 12 Juli 2014
Chiko Jerikho

Sumber : malukuonline.co.id

Post a comment

0 Comments