Bugar Sebelum Meninggal Terminal Lucidity Antara Mitos, Keajaiban Dan Misteri

Pernahkah anda melihat seseorang yang mengalami penyakit mematikan, tiba-tiba menunjukan prilaku sembuh namun beberapa jam kemudian meninggal ? Teman saya yang menjenguk ayahnya bercerita pada saya tentang ayahnya yang menyuruh dia pulang ke tempat kerjanya dan meyakinkan bahwa ayahnya akan membaik.

"Pulang nak, jangan tinggalkan pekerjaan kamu, ayah akan baik-baik saja,"  kata ayahnya sambil memeluk anaknya.

Teman saya pun pulang ke tempat dia bekerja, beberapa jam kemudian dia mendapat telpon dari keluarganya bahwa ayahnya sudah meninggal. Kejadian seperti ini tentunya banyak ditemukan disekitar kita, orang yang semula sakit, tiba-tiba karakternya seperti orang sehat sehingga kita memberi kesimpulan bahwa dia sudah sembuh namun beberapa jam kemudian meninggal.

halutsiana.com

Kejadian ini biasanya disebut dengan  Terminal Lucidity yang merupakan keadaan penuh kebugaran sesaat sebelum kematian menjemput. Fenomena kembali bak orang sehat menjelang kematian pernah disarikan pada zaman Hippocrates dan Ibnu Sina. Mereka mengungkapkan bahwa, penderita penyakit mental memperoleh kesadaran kembali ketika kematian menjemput tanpa diketahui sebabnya.

Periset University of Virginia Michael Nahm dan Bruce Greyson mengeksplorasi masalah ini dalam sebuah laporan kasus yang diterbitkan dalam jurnal berjudul Omega: "Kematian Anna Katharina Ehmer: sebuah studi kasus dalam Terminal Lucidity.

Kedua peneliti ini membahas kasus Anna Katharina Ehmer, seorang wanita Jerman yang hidup dari tahun 1895 sampai 1922. Ehmer menghabiskan sebagian besar hidupnya di rumah sakit Hephata, Jerman tengah.

Di antara pasien dengan gangguan jiwa paling parah yang pernah tinggal di rumah sakit jiwa ini, Ehmer-lah yang paling parah tingkat gangguan jiwanya. Sejak lahir, dia sudah mengalami keterbelakangan mental secara serius, Ehmer tidak pernah belajar mengucapkan sepatah kata pun alias bisu, dia melahap makanannya, mengotori dirinya siang dan malam. Para perawat rumah sakit tidak pernah melihat bahwa dia memperhatikan lingkungannya tetap bersih sedetik pun.

Tapi semua itu ternyata berubah pada hari kematiannya. Dokter dan perawat dirumah sakit tersebut menggambarkan kejadian tersebut, sebagai hal yang luar biasa dan sebuah keajaiban dan penuh misteri.

"Saat kami memasuki ruangan bersama, kami tidak percaya pada mata dan telinga kami. Ehmer yang tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun, menyanyikan lagu yang sedih untuk dirinya sendiri. Secara khusus, dia bernyanyi berulang-ulang," Kata dokter Dr. Wittneben.

"Dari mana jiwa menemukan rumahnya, kedamaiannya? Perdamaian, kedamaian, kedamaian surgawi!" Itulah syair lagunnya, selama setengah jam dia bernyanyi.

"Wajahnya, yang sampai saat itu begitu tegang, berubah rupa dan spiritual. Lalu, dia diam-diam meninggal. Seperti diriku dan perawat yang merawatnya, menangis di hadapan dirinya." Kata dokter Wittneben.

Ehmer rupanya mendapatkan kemampuan tidak hanya untuk berbicara, tapi juga menyanyikan syai lagu yang sesuai untuk jiwanya sendiri. Dr Wittneben juga menulis tentang peristiwa tersebut sebagai kejadia yang ajaib dan misteri.

Jelas, [Ehmer] hanya secara dangkal tidak berpartisipasi dalam semua yang terjadi di sekitarnya. Kenyataannya, dia rupanya sudah menginternalisasi sebagian besar. Dia telah memahami isi lagu ini dan menggunakannya dengan tepat di saat paling kritis dalam hidupnya.

Dalam publikasi itu Nahm dan Bruce menggali 80 referensi hasil penelitian fenomena terminal lucidity pada pasien yang menderita penyakit gangguan jiwa. Lewat publikasi yang berasal dari 50 penulis itu, dia berhasil mengungkap 49 kasus terminal lucidity.

Sejak publikasi itu, Nahm sudah merilis makalah laporan kasus terminal lucidity. Salah satunya yang terjadi pada Anna Katharina Ehmer, dipublikasikan di jurnal Death and Dying pada 1 Februari 2014.

Dalam publikasi itu, dokter melaporkan bahwa Ehmer menyanyikan lagu-lagu kematian setengah jam sebelum kematian benar-benar menjemputnya. Menurut Nahm, perilaku itu juga kerap dijumpai pada orang lain yang akan meninggal.

Apa yang memicu "terminal lucidity"? sampai saat ini, pemicunya masih misteri. Nahm masih menggugah kesadaran banyak peneliti untuk menaruh perhatian pada soal itu.

Pada pasien yang mengalami tumor otak, kata Nahm seperti dalam tulisan Peskin di New York Times 11 Juli 2017 lalu, terminal lucidity bisa dipicu oleh penyusutan otak yang berakibat pada pikiran yang lebih jernih. Tapi, pada penyakit ginjal, jantung, atau orang sehat, penyebabnya belum diketahui.

Namun hal ini juga bukan hanya terjadi pada pasie gangguan jiwa saja, tapi dilaporkan pasien-pasien lain juga mengalami hal yang sama sebelum saat ajal menjemput mereka.

Nahm mengatakan, penelitian pada terminal lucidity bermanfaat secara medis maupun bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka bisa lebih siap menghadapi kematian orang yang dicintainya.

Post a comment

0 Comments