Prabowo Kebelet Cari Panggung

Melihat Prabowo hari ini adalah melihat gambar buram dari sebuah foto heroik. Kegagahan yang selalu ditampilkan bak Soekarno di panggung-panggung itu dulu, kini mulai susut, menjamur. Sudah tidak ada lagi citra patriotik. Kini kita melihatnya secara utuh hanya sebagai politikus. Apa yang dibelanya semata urusan politik. Tak lebih. Di atas panggung itu diksi yang dipilihnya kacau. Fokus kalimatnya kabur. Prabowo mirip komika yang gagal menyusun premis dan membuat punchline.

Jokowi sebagai lawan politiknya memang punya kekurangan. Namun bukan hal prinsipil untuk dijadikan bahan serangan. Soal hutang yang digembar-gemborkan itu malah jadi bahan tertawaan. Mereka terlihat jelas tak menguasai data. Atau menguasainya, tapi ingin melakukan provokasi politis dengan cara kotor dan murahan. Soal presidential threshold juga demikian. Prabowo dan pasukan sorak-sorainya terlihat asbun, lupa sejarah.


Di tengah upaya putus asa itu Prabowo agaknya sudah tak perduli lagi soal seni berpolitik. Ia main kayu. Semua celah digunakan. Pilpres memang sudah dekat. Elektabilitas Jokowi harus ditekan dengan serba menyalahkannya. Termasuk untuk urusan Rohingya. Otak waras kita tentu berpikir keras mencari hubungannya apa.

Prabowo tenggelam, sepi pemberitaan. Citra gagah palsu dengan mengedit gambar poster habis-habisan agar tampak lebih muda, tak membuahkan hasil memuaskan. Membanggakan Soeharto (mantan mertua) dan ayahnya (Soemitro) sudah ketinggalan jaman. Prabowo butuh sesuatu yang segar. Gagasan baru yang membuat dirinya diperhitungkan lagi. Prabowo perlu panggung.

Sayangnya pencitraan kuno seperti itu sudah tak laku. Orang-orang menunggu tawaran yang lebih baik. Sosok yang mungkin lebih muda, gesit dan penuh gairah. Seseorang yang mungkin bisa memberikan kejutan. Namun bukan Prabowo, apalagi dalam bentuk yang sekarang: tua dan tampak kedodoran. Jokowi juga tak masuk hitungan, tapi ia sudah punya brand, merakyat dan giat bekerja. Orang-orang masih akan menunggu gebrakannya.

Di titik inilah ada pemakluman memilukan untuk Prabowo. Ia harus menurunkan levelnya sedemikian rendah demi meraup perhatian publik. Ia ingin mengingatkan dirinya masih ada. Prabowo kebelet cari panggung. Ia sampai harus berpanas-panas menumpang demonstran PKS. Sesuatu yang mungkin dulu dibencinya saat mertuanya berkuasa. Sehingga sampai ada kasus penculikan aktivis.

Di panggung jalanan itu tidak ada lagi Prabowo rasa Soekarno. Kita disuguhi sesuatu yang lain. Seseorang yang bahkan sulit menerapkan logika sederhana. Kita tak perlu menyebutnya badut, meski peran yang ditampilkannya lucu. Pemerintah sudah berbuat banyak untuk Rohingya. Semua orang tahu itu. Namun ia menggunakan isu itu dengan kepercayaan diri yang luar biasa. Seolah hal itu adalah kegentingan nasional dan hanya dia yang bisa menyelesaikannya. Your head trapesium!

(Sumber: Pemilik akun Facebook bernama Kajitow Elkayeni)

Post a comment

0 Comments