Asian Games 2018 Dan Membangun Kedigdayaan Bangsa

Indonesia merupakan negara dengan penduduk 260 juta jiwa namun sangat jauh dari perestasi-prestasi olahraga kancah dunia, baik itu berskala Asia maupun Indternasional. Sebut saja Asian Games tahun 2006, Indonesia hanya mengantongi 2 Emas, tahun 2010 4 emas dan tahun 2014 Indonesia mengantongi  4 emas.

Sepanjang sejarah Asian Games, pada tahun 1962 Indonesia pernah menduduki peringkat ke 2 dengan koleksi 11 mendali emas dan saat itu negara peserta Asian Games masih berjumlah 12 negara, tidak termasuk negara China. Hal ini tentu bukan menjadi pembanding antara tahun 2018 dan tahun 1962 yang sama-sama mendulang banyak mendali emas, tapi setidaknya kita bisa berbangga karena kita pernah menduduki peringkat 2 pada tahun1962 dan kesuksesan itu diulang oleh para pahlawan olahraga.


Namun berbeda dengan tahun 2018. Ditahun 2018 boleh dibilang Indonesia berhasil mencentak sejarah sekaligus ajang kebangkitan olahraga, karena selain kokoh pada peringkat 4 dari 45 negara peserta Asian Games 2018, Indonesia sudah meraih 20 mendali emas dari 40 cabang olahraga.

Tentunya masih akan terus bertambah prestasi kontingan Indonesia karena saat saya menulis artikel ini, pagelaran Asian Games belum berakhir dan Indonesia berpeluang mendapat tambahan mendali emas.

Kelemahan bertahun-tahun dan bangkit lagi menegakkan harga diri bangsa di dunia olahraga hanya membutuhkan waktu 4 tahun pembenahan sejak 2014. Kala itu Indonesia hanya memiliki 4 mendali emas dan tahun 2010 Indonesia juga mendapat 4 mendali emas.

Jika kita kaitkan dengan pemerintah saat itu maka kesimpulan yang sederhana adalah hampir 9 tahun pemerintahan SBY berkuasa, Indonesia hanya mendapat 8 mendali emas. Artinya 1 tahun pemerintahan Jokowi, Indonesia mendapat  5 mendali emas sedangkan pemerintahan SBY, kontingen Indonesia hanya meraih 1 mendali emas per tahunnya.

Faktor tuan rumah memang berpengaruh dalam meraih kemenangan, tapi bukan menjadi parameter untuk mengukur tingkat kesuksesan Indonesia saat masuk dalam 5 besar Asian Games 2018. Lihat saja China dan Jepang, walaupun mereka bukan tuan rumah, tapi mereka selalu berada diatas negara kita dan negara-negara tuan rumah lainnya pada Asian Games sebelumnya.

Lantas apa yang menjadi penyebab kebangkitan Indonesia dalam dunia olahraga?

Jokowi disebut-sebut sebagai sumber keberhasilan Indonesia meraih sukses di Asian Games 2018. Mulai dari opening dengan aksi standing dan terbang ala film holiwood dan aksi goyang dayungnya yang membuat gernerasi milenia jadi baper dan membuat goyang dayung itu terkenal di aplikasi tik tok.

Jokowi pula yang menghargai setiap pahlawan olahraga dengan memberi bonus sebesar Satu Setengah Milyar Rupiah belum termasuk embel-embel rumah baru.

Jika dibandingkan dengan peraih emas Asian Games 2014 Incheon, masih jauh dari kata layak yaitu peraih medali emas diganjar bonus Rp 400 juta, pemilik perak Rp 200 juta, dan perunggu diberi bonus Rp 100 juta.

Jokowi sedang mengajak masyarakat Indonesia membangun kedigdayaan Indonesia melalui visi Nawacitanya, yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia serta meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lain di dunia.

Jepang mempunyai masyarakat yang gemar berolahraga, sehingga mereka bisa sukses dan maju dalam berbagai hal, khususnya dalam membangun sumber daya manusianya.

Dengan olahraga, generasi muda diajarkan untuk sabar, disiplin, jujur dan gigih dalam meraih setiap prestasi dan inilah yang dilkukan Jokowi untuk mengejar ketertinggalan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam berolahraga, kita bisa ciptakan interaksi antar ruang yang tentunya dapat menciptakan restorasi antara satu dengan yang lain bukan menjadi warga yang hanya hidup dengan memfitnah, mengkafirkan orang lain dan meracangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan tatanan hidup berbangsa yang berbhineka tunggal ika.

Jokowi juga ingin menunjukan pada kita bahwa olahraga tidak hanya berfokus pada pelatihan fisik, tapi membangun mental dengan mengedepankan cara berkomunikasi dalam sebuah tim, kepemimpinan, bersikap adil atau fair play dan semangat dalam mencari solusi untuk sebuah kemenangan.

Belajarlah pada Muhammad Zohri, walaupun miskin tapi keuletan dan disiplin yang tinggi, dia bisa menjadi juara dunia lomba lari 100 meter. Zohri mengajarkan kita bahwa olahraga bukan milik orang tertentu atau orang kaya, tapi milik orang cerdas. Karena kecerdasannya, dia menolak prestasinya dipolitisasi oleh Pe Ka Es dan konco-konconya dengan memuat iklan mie instan, gambarnya ada telur tapi isinya mie doang. Gambarnya Zohri dan lambang partai sapi ada dalam iklan tersebut tapi sapinya tidak punya kontribusi dalam prestasi zohri.

Prestasi akan diraih jika mental tidak terpola pada ideologi yang lebih mementingkan kepentingan diri atau kelompok. Mental yang bobrok adalah mereka yang demi keyakinannya membunuh keyakinan orang lain.

Mari kawan, jangan tidur terbalik seperti kelelawar, supaya suplai darah ke otak jadi sempurna karena seimbang dengan gaya gravitasi bumi. Jadilah generasi yang mempunyai tubuh yang kuat dan jiwa sehat, bukan tubuh terlihat kuat namun memiliki jiwa yang sakit.

No comments

Dilarang Berkomentar dengan menggunakan unsur-unsur SARA atau mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk apapun.

Powered by Blogger.