Mona Lisa Dan Jokowi

Indonesia dan Monalisa merupakan dua kata yang jauh berbeda secara perspektif baik dari sudut spasial maupun dimensinya, namun mempunyai kesamaan visual yaitu keindahan dengan keberagaman warna.

Leonardo Da Vinci, sang pelukis Monalisa tahu cara membuat lukisannya bernilai dengan senyuman yang memukau setiap mata yang memandang. Lukisan dengan harga tak ternilai itu dibuat sedetail mungkin, butuh konsentrasi dan waktu belasan tahun untuk menjadi sempurna. 

Bukan waktu yang pendek ketika lukisan termahal ini dibuat, yaitu sejak tahun 1503 hingga 1519, itu semua demi sebuah nilai.


Apa hubungannya dengan Indonesia? Sebuah lukisan disamakan dengan Indonesia adalah  kenaifan jika kita hanya mengvisualisasinya  menggunakan otak kiri sebagai pengendali IQ. 

Meskipun sebagai pengendali IQ, seorang pelukis lebih mengutamakan otak kanan untuk mengontrol emosionalnya sehingga lukisannya bisa bernilai sepanjang masa.

Otak kiri selalu tidak sabar karena memorinya bersifat jangka pendek dan selalu memaknai nilai kehidupan dari sebuah angka, bukan keberhasilan mengelolah emosi dengan otak kanan. Itulah yang membuat Monalisa seolah hidup dan tersenyum dalam keabadian.

Membuat Indonesia bernilai dan bermartabat bukan hanya dari sisi peningkatan pertumbuhan ekonomi, penurunan angka pengangguran dan ketahanan rupiah terhadap dolar walaupun semuanya itu diukur dengan angka yang tentunya mempunyai nilai.

Indonesia akan menjadi kuat jika dibarengi dengan bersatunya seluruh lapisan masyarakat meski dari berbagai Suku, Agama, Ras dan golongan yang berbeda. Itulah yang sekarang ditawarkan Jokowi untuk Indonesia yang mandiri dan memiliki sumberdaya yang bermartabat.

Sebagaimana Da Vinci yang menyatukan warna-warni menjadi sebuah lukisan nan indah, Indonesia juga membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat meskipun dengan berbagai warna kehidupan.

Kita butuh Jokowi dalam konteks yang sama dengan Da Vinci untuk mewarnai 17.000 pulau, 742 bahasa, dan 300 lebih suku atau 40% dari populasi Indonesia menjadi suatu lukisan yang tak ternilai dengan apapun juga.

Prabowo yang selalu kampanyekan pesimisme dan ketakutan disamping mengangkat isu SARA sebagai kendaraan menuju kekuasaan
tidak banyak mendapat simpati masyarakat karena memanipulasi makna sebuah nilai dengan sesuatu yang tidak bisa diukur.

Baik buruknya sebuah prestasi tidak terlepas dengan sebuah angka cara pengukurannya, tapi harus diingat, yang banyak atau sedikit belum tentu itu bernilai. Makna dari sebuah nilai adalah ketika kita mampu memanipulasi sesuatu menjadi lebih baik dan bermakna.

Para pendukung Prabowo, coba anda bertanya pada diri sendiri, sudah seberapa bernilaikah hubungan anda dengan para pendukung Jokowi. 

Jika anda bertanya pada pendukung Jokowi tentang hal ini, mereka akan menjawab "kami sedang membangun sebuah jembatan yang telah memisahkan kita oleh pandangan politik yang berbeda".

Inilah yang ditawarkan Jokowi yaitu membuat anak bangsa lebih bermartabat dan mandiri, bukan menebarkan kebohongan demi menutupi birahi kekuasaan dengan menginjak norma agama secara membabi buta.

Sebenarnya Indonesia bukan tentang Jokowi dan Prabowo, tetapi tentang siapa yang berani berbuat baik untuk rakyatnya, meskipun ada peluang untuk memperkaya diri dan kelompoknya namun rakyat adalah yang utama dari segalanya.

Ratusan juta orang akan berdoa untuk pemimpin yang jujur karena mereka tahu "Tuhan Tidak Tidur".


No comments

Dilarang Berkomentar dengan menggunakan unsur-unsur SARA atau mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk apapun.

Powered by Blogger.