Mengenal Lebih Dekat Tentang Kanker Usus Besar

Kanker bermula dari sel. Sel adalah kumpulan materi paling sederhana yang dapat hidup dan merupakan unit penyusun semua makhluk hidup. Secara normal, sel-sel ini akan membelah dan terbentuk sel baru dengan terkontrol dan sesuai dengan siklus normalnya. Hal ini sebagaimana tubuh kita dalam hal penyembuhan dan memperbaiki yang tidak normal.

Namun yang terjadi pada sel kanker justru sebaliknya. Sel yang tidak normal akan bertumbuh tak terkontrol dan membelah diri lebih cepat dari normal. Sel-sel tidak normal inilah yang membentuk satu benjolan dan disebut tumor. Perlu diingat bahwa semua benjolan adalah tumor, namun semua tumor belum tentu adalah kanker.

Sumber gambar: https://www.healthhub.sg
Benjolan yang tidak bersifat kanker biasanya disebut tumor jinak karena tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Sedangkan tumor ganas adalah sel kanker yang disebut diatas, bahwa sel tersebut akan membelah tanpa terkontrol.

Sel-sel kanker kadang-kadang melepaskan diri dari kanker primer dan berjalan melalui darah atau sistem limfatik ke bagian lain dari tubuh. Sel-sel kanker yang menyebar dan berkembang menjadi tumor di tempat lain di dalam tubuh disebut kanker sekunder.

Bagaimana Gejala Kanker Usus

Menurut Laporan Tahunan California Cancer Registry 2015, sekitar 35 orang didiagnosis mengidap kanker setiap hari di Singapura - dengan kanker kolorektal merupakan diagnosis yang paling umum. Sebanyak 9.807 kasus baru didiagnosis antara 2011 dan 2015.

Pengalaman saya sebagai perawat onkologi, sebagian besar pasien menyadari mereka sudah mengidap kanker usus setelah melakukan pemeriksaan patologi anatomi. Namun sangat sedikit yang menyadari sebelum itu bahwa mereka sudah mengalami tanda-tanda kanker usus.
Untuk itu saya bagikan tentang bagaimana tanda dan gejala kanker usus dibawah ini:

Terdapat darah di dalam kotoran (tinja), darah mungkin merah terang atau gelap. Perubahan pola buang air besar yang terjadi tanpa alasan yang jelas dan berlangsung lebih lama dari tiga minggu - misalnya, diare atau sembelit

Penurunan berat badan tanpa alasan, sakit di perut dan terasa kram, kelelahan yang tidak dapat dijelaskan, pusing atau sesak napas. Pada pemeriksaan dara HBlebih rendah dari normal (anemia).
Kadang-kadang kanker dapat menyebabkan penyumbatan (obstruksi) di usus. Mungkin terasa sembelit dan kembung, mual atau muntah.

Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kondisi selain kanker usus besar, tetapi pemeriksaan dokter ahli onkologi lebih disarankan agar diagnosa segera diketahui.

Siapa saja yang berpotensi Kanker Usus besar?

Menurut situs alodokter.com, yang beresiko kanker usus adalah mereka yang memiliki faktor keturunan dan dibagi menjadi dua, yaitu:

Hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC). Kelainan ini dikenal juga dengan nama sindrom Lynch. Seseorang dengan sindrom Lynch akan berisiko tinggi mengidap kanker usus besar sebelum usia 50 tahun.

Familial adenomatous polyposis (FAP). FAP merupakan penyakit langka yang menyebabkan munculnya ribuan benjolan kecil (polip) pada dinding usus besar dan rektum. Seseorang dengan FAP berisiko berkali-kali lipat untuk menderita kanker usus besar sebelum usia 40 tahun.

Namun faktor lain juga dapat juga mempengaruhi seseorang untuk beresiko mendapat kanker usus. Macmillan Cancer Support dalam situsnya mengatakan bahwa di Inggris, sekitar 27.000 orang menderita kanker usus besar setiap tahun.

Berikut faktor resiko kanker usus besar menurut Macmillan Cancer Support:

Faktor Usia
Seperti kebanyakan jenis kanker, kanker usus lebih sering terjadi pada usia diatas 60 tahun. Lebih dari 80% kanker usus (8 dari 10) didiagnosis pada orang berusia di atas 60 tahun.

Faktor Makanan (Diet)
Makanan yang mengandung daging merah dan disebutkan meningkatkan risiko kanker usus. Daging merah termasuk daging sapi, domba dan babi. Daging olahan termasuk sate, bacon (lemak babi), sosis, pâté dan daging tinned. Makan daging goreng atau bakar juga dapat meningkatkan risiko.

Makan lebih dari dua porsi sehari daging merah atau olahan sejenisnya dapat meningkatkan resiko kanker usus.
Tidak ada hubungan yang ditemukan antara kanker usus dan makan unggas (seperti kalkun dan ayam).

Tidak cukup makan buah dan sayuran segar juga dapat meningkatkan risiko kankfer usus.

Ketidakaktifan fisik
Orang-orang yang tidak aktif secara fisik lebih mungkin mengembangkan kanker usus.

Berat badan
Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko terkena kanker usus, terutama pada pria.

Merokok
Kanker usus besar lebih sering terjadi pada orang yang telah merokok selama bertahun-tahun.
Di Indonesia Penduduk laki-laki yang merokok sebesar 56,7% berisiko kanker, sedangkan perempuan yang merokok sebesar 1,9%. Namun, penduduk perempuan lebih banyak yang obesitas dibandingkan dengan penduduk lakilaki, yaitu sebesar 42,1%.

Demikian sekilas tentang kanker usus, jika para pembaca halutsiana merasa memiliki gejala seperti diatas, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut


No comments

Dilarang Berkomentar dengan menggunakan unsur-unsur SARA atau mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk apapun.

Powered by Blogger.