Guest Is God Dalam Film Mumbai Hotel

Film dengan plot cerita tentang aksi teroris yang disutradarai oleh sutradara  asal Australia, Anthony Maras  mengangkat kisah nyata aksi teror yang terjadi di kota Mumbai India tahun 2008. Judulnya Hotel Mumbai.


Penggiat Media Sosial, Deni Siregar,  2 hari lalu menulis  tentang film ini yang dipandangnya hanya dari sisi terorisme dengan mengupas aksi para pelaku penembakan sebagai anak-anak muda yang kurang pendidikan dan berhasil di cuci otaknya.

Namun tidak dengan saya, ada tiga hal yang berhasil memainkan emosi saya yaitu, Arjun si pelayan, David bersama Istrinya dan seorang wanita yang duduk di samping saya.

Diawal film ini mengisahkan tentang seorang pelayan bernama Arjun, harus menghadapi kenyataan pahit dipecat oleh bosnya karena pergi kerja lupa membawa sepatu.

Arjun harus berusaha meluluhkan hati bosnya dengan menyakinkan bosnya bahwa ia bekerja untuk anak dan istrinya yang tengah hamil.

Arjun selamat dari pemecatan dan terus bekerja hanya dengan meyakinkan bosnya bahwa dia bukan bekerja untuk apa, tapi untuk siapa, yakni demi keluargannya.

Ketika setiap orang ingin menyelamatkan diri mereka masing-masing dari incaran teroris, Arjun dan bosnya, seorang koki ternama justru dengan heroik menyelamatkan para tamu.

Arjun nekat pertaruhkan nyawanya bukan hanya demi sebuah motto: "Guest is God."  Akan tetapi ada sesuatu lebih penting, yakni tanggung jawab. Arjun menghargai setiap kehidupan tamunya. Itulah alasan Arjun berjuang berdarah-darah demi orang-orang yang tidak dia kenali lebih jauh.


Kedua, film ini berhasil memacu adrenalinku, adalah kisah David dan istrinya Zahra sama-sama berhasil menyajikan perjuangan menjaga keutuhan keluarga. Perjuangan mereka membuat emosi penonton ikut terbawa.

Zahra melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana seorang teroris memberondong suaminya dengan muntahan peluru dari moncong senjata mesin, demi menyelamatkan keluarganya.

Ketiga, ini adalah klimaks dari sebuah pertunjukan film Mumbai Hotel yang menggambarkan perjuangan demi orang-orang yang mereka cintai, yaitu ketegangan seorang wanita di samping saya.

Sesekali dia menunjukan rasa takutnya, dengan menutup mata menggunakan kedua telapak tangannya  sambil melirih seolah dia juga merasakan peluru yang ditembak oleh aktor antagonis pada tamu hotel.

Saya pun dengan  refleks menenangkan wanita ini, sambil meyakinkannya bahwa ini hanya sebuah film, jangan terbawa dengan sebuah imajinasi.

Saya mengenal wanita ini meski tidak terlalu jauh, tetapi karena dia adalah tamu dalam hati, maka saya berhak untuk menjaganya sebagaimana Arjun menjaga para tamunya, dengan semboyan Guest is God.

Hingga saatnya nanti, saya akan menutup rapat-rapat pintu hati karena saya tahu dia sudah berada di dalam hati saya dengan aman tanpa gangguan dari apapun.

Meskipun ini adalah film yang diperankan oleh sebagian besar orang India, namun film ini tidak ada identitas film India pada umumnya,  yang sering menyediakan lahan kosong saat pembuatan film untuk menari, berlari dan menyanyi.

Saya sangat merekomendasikan kepada semua pembaca untuk mengisi hari libur anda dengan menonton film ini.

No comments

Dilarang Berkomentar dengan menggunakan unsur-unsur SARA atau mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk apapun.

Powered by Blogger.