Herd Imunnity dan New Normal Sebagai Solusi Lawan Corona?

Sepekan setelah pengumuman kasus COVID-19 pertama oleh pemerintah Indonesia, saya sudah menulis tentang Herd Imunnity. Kala itu banyak yang bertanya melalui inbox apa itu Herd Imunnity. Namun sekarang saya tidak perlu menjelaskan tentang strategi Herd Imunnity karena hampir semua media online pernah membahas ini.

Perlahan tapi pasti, negara-negara Eropa dan Amerika seolah kewalahan menangani wabah virus SARS-COV-2 ini. Kesulitan ekonomi menghantui setiap negara, oleh karena jumlah PHK dan perusahan-perusahan tidak berproduksi lagi.

Ada ketakutan dan kecemasan yang menghantui warga dan pemerintah saat ini. Jika COVID-19  adalah gempa bumi, tsunami adalah resesi ekonomi dan yang mempunyai efek membunuh lebih besar adalah tsunami, bukan gempanya.

Pengumuman WHO yang mengatakan bahwa virus SARS-COV-2 tidak akan pernah hilang membuat pemerintah negara-negara dunia mengambil langkah strategi untuk kelangsungan hidup warganya.

Strategi Herd Imunnity pun menjadi pilihan utama negara-negara maju seperti Amerika, Italia, Rusia dan Inggris. Meskipun demikian, pemerintah negara-negara diatas menolak telah menerapkan Herd Imunnity.


Indonesia pun mempunyai strategi sendiri, yang jika dicermati tidak jauh berbeda dengan Herd Imunnity. 

Dalam suatu kesempatan presiden Jokowi menjelaskan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan COVID-19. Pernyataan ini mengacu pada pernyataan WHO bahwasanya penyakit yang bermula dari Wuhan ini tidak akan hilang dari muka bumi.

Alhasil, presiden seolah plin-plan, melarang tidak mudik, tetapi bandara di buka, melarang tidak keluar rumah, tapi mall di buka. Ditambah lagi warga +62 tidak betah tinggal di rumah, maka lengkap sudah penderitaan tenaga kesehatan yang siang malam berhadapan dengan penderitaan pasien COVID-19. 

Oleh berbagai pihak, kebijakan Lockdown memang membuahkan hasil yang baik. Contohnya Kota Tegal, memiliki kasus nol sudah sepekan karena menerapkan Lockdown secara baik. Bupati dan Wakil Bupati terus bergerilya, turun ke bawah memerangi pandemi sambil memastikan warganya tidak kelaparan.

Namun pertanyaanya,  sampai kapan kita harus hidup dengan Lockdown sedangkan COVID-19 tidak pernah hilang.

Pakar ekonomi berpendapat bahwa ketahanan ekonomi Indonesia hanya sampai pada bulan Juni 2020.

Hidup berdamai dengan COVID-19 adalah alasan masuk akal dibanding Lockdown, karena masalah ekonomi menjadi alasan jika Lockdown dalam jangka waktu lama. Hal ini merupakan pilihan pamungkas untuk menjawab efek dari pandemi. 

Masyarakat tidak akan disalahkan lagi karena ngeyel, hanya saja mereka harus mengikuti semua aturan yang diterapkan oleh pemerintah. 

Memakai masker, jaga jarak dan jauhi kerumunan akan menjadi normal jika ini menjadi kebiasaan. Kehidupan normal akan dilaksanakan berdampingan dengan COVID-19. 

New Normal namanya, karena berdampingan dengan ancaman kematian menjadi sesuatu yang normal. Bulan Juni adalah puncak COVID-19 di Indonesia dan bulan Juni pula, kita akan memasuki kehidupan normal. 

Amerika sendiri mulai melakukan pelonggaran Lockdown,hal ini ditandai dengan perintah Trump untuk membuka rumah-rumah ibadah. Kesannya baik dan terlihat sedikit religius, namun sadarkah kita bahwa Herd Imuniti mulai dijalankannya?

Untuk Indonesiaku, pertanyaannya, apakah kita bertahan menjalani new normal? Semuanya tergantung pada kesadaran masing-masing orang dan konsistensi pemerintah dalam menegakkan hukum terkait COVID-19. 


Post a comment

0 Comments