Kelelahan Mental Dalam Karantina Itu Nyata, Ini Cara Mengatasinya

Sudah 2 bulan lebih, sejak isolasi mandiri diumumkan oleh pemerintah, pusat bisnis, pusat perbelanjaan semuanya ditutup dan sejarang semua orang berharap untuk kembali menjadi normal.

Meskipun pemerintah telah mengumkan bahwa akan kembali normal secara bertahap seperti pembukaan pasar, pusat perbelanjaan sekolah kantor dan pusat-pusat bisnis itu akan dilakukan secara bertahap, tetap saja ada kecemasan masyarakat tentang masa depan mereka.

Saat ini disinyalir, pengaruh psikologi oleh karena kelelahan karantina atau isolasi mandiri akan dialami oleh beberapa orang.

Para ahli mengatakan bahwa seseorang harus memeriksa dirinya atau mengidentifikasi apakah ia mengalami gangguan kecemasan terhadap karantina atau social distancing.

Psikolog The Ohio State University Wexner Medical Center, Mary Fristad mengatakan banyak orang mulai menggambarkan kelelahan pada akhir-akhir ini akibat social distance.

"Di Rumah Aja menjadi alasan orang-orang mulai mengalami begitu banyak perubahan dan ketidakpastian dalam hidup. Terutama jika mereka mengalami kesulitan secara finansial akibat dirumahkan oleh perusahaan atau tidak menghasilkan uang dalam penjualan seperti sebelum masa pandemi," Jelas Fristad.

Bagaimana cara agar orang-orang terus bertahan pendemi COVID-19  dan mereka tidak mengalami kecemasan.

Seperti yang dilansir oleh healthline bahwa Melisa Wessner seorang konselor pendiri LifeSpring Counseling Service konseling service mengatakan,  ada beberapa orang merespon pandemi dengan kesamaan satu sama lain, tetapi masing-masing mempunyai respon individu yang bervariasi.

"Begitu banyak situasi berbeda di seluruh dunia dan respon yang bervariasi tergantung pada pengalaman dari setiap orang menanggapi pandemi COVID-19  ini," Jelasnya.

Misalnya orang-orang yang bekerja di rumah atau Work From Home, mereka melaporkan ada kelelahan mata atau astenopia karena terlalu lama di depan komputer, serta masih banyak orang-orang yang tidak mau mengidentifikasi diri dan melaporkan rindu bertemu secara fisik untuk kembali bersama-sama dengan teman, keluarga dan rekan kerja.

Masih menurut Wesner, banyak orang bersosialisasi melalui telepon maupun video call, hal ini tidak pernah mengisi kekosongan akibat menjauhkan diri secara sosial. Intinya kedekatan fisik sangat mempengaruhi kesehatan mental seseorang dan kedekatan secara virtual tidak sama dengan kedekatan secara fisik.

Dengan rutinitas dia atas, secara tidak langsung bertentangan dengan salah satu ciri  makhluk hidup yaitu bersosialisasi. Untuk itu  para ahli menyarankan agar semua orang bisa membuat rutinitas baru dikala pandemi ini.

Berolahraga secara rutin di dalam rumah sendiri jauh lebih berguna dibanding dengan mengisi kekosongan waktu dengan hal-hal secara online seperti bersosial media maupun nonton film online.



Untuk itu, mereka yang bekerja di rumah tidak perlu berolahraga di luar rumah, tetapi menyusun sebuah jadwal yang akan dilakukan secara rutin olahraga ini bisa dipandu secara virtual.

Dari berbagai masalah yang kompleks, hal yang ditakutkan berbagai kalangan adalah dalam pandemi COVID-19 ini bisa membuat seseorang memutuskan untuk pergi keluar rumah seperti berkumpul di suatu tempat dan melakukan hal-hal yang mereka rasa baru selama pandemik ini.

Buatlah kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik diri sendiri sambil dipadukan dengan sosialisasi secara virtual. Misalnya mencoba membuat resep masakan baru kemudian tunjukan pada teman-teman anda melalui video call.

Masih banyak lagi aktifitas yang dapat menjauhakan seseorang dari kepenatan di dalam rumah. 

Post a comment

0 Comments