Jika Komorbiditas Yang Membunuh, Mengapa Harus COVID-19 Yang Discreening?

Komorbiditas adalah benang merah dibalik rekor kasus paparan dan fatalitas Covid19 (SARS Cov2) yang selalui memenuhi timeline facebook setiap harinya. Lucu sih kalau hanya mau fokus di capaian fatalitas virus Covid19nya saja (mungkin maksudnya mau menunjukkan betapa Covid19 itu tidak terkalahkan).

Selama ini komorbiditas (penyakit yang sudah ada sebelum terinfeksi virus) masih jarang diangkat dalam pembahasan di kalangan tertentu. Komorbiditas umumnya terkait sindrom metabolik (diabetes, hipertensi, ginjal, jantung, kanker, obesitas, asma dan lain sebagainya), maka solusinya pengkondisian metabolik melalui puasa, jauhi karbo, banyak gerak, tidur yang cukup dan berkualitas dan kelola stress dengan baik.


Jika kita terus mengejar jejak virus corona pastinya melelahkan karena sama dengan melawan musuh yang tidak tampak. Mending yang sudah jelas di depan mata saja yang dibenahi, metabolic conditioning. Parameter klinisnya pun akan mudah ditest.

Prinsip sederhananya gini, terkait virus (termasuk virus SARS-COV2) manusia punya dua pilihan: menjadi good host atau bad host bagi virus.

Memiliki komorbiditas (sindrom metabolik dan obesitas) adalah contoh konkrit kondisi good host bagi virus.

Mengutip ucapan dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp.A (K), jika kita tidak mau terinfeksi virus Sars Cov2, jadilah a bad host. Dijamin virus nggak akan betah di tubuh kita.

Jadi tidak cukup APD, masker dan jaga jarak saja, tetapi mari kita pastikan tubuh kita menjadi seburuk-buruknya tuan rumah buat virus. Jangan terbalik.

Menjadi tuan rumah yang baik bagi virus berarti membiarkan kondisi kesehatan kita buruk (metabolic syndrome) dan menjadikan diri kita sasaran tembak Covid19 yang mudah dan kita (bisa) mati karenanya. 

Kalau jadi tuan rumah yang buruk bagi virus berarti kondisi kita sehat wal afiat dan virusnya yang bakal mati. Caranya ya itu tadi metabolic conditioning dengan berpuasa dan empat hal penting lainnya di atas.

Post a comment

0 Comments