Jika RCTI Menang Gugatan, Live Streaming Medsos Akan Dilarang

Kepanikan luar biasa mulai ditunjukan oleh media-media mainstream di Indonesia akibat pundi-pundi uang mereka mulai terkikis dengan perkembangan dunia internet yakni media sosial dengan berbagai fiturnya.

Gugatan RCTI tentang siaran langsung alias live di media sosial adalah salah satu bentuk paranoia pemilik media yang hanya hidup dari rating penonton. Jika, semuanya beralih ke media sosial, maka rating penyiaran layar kaca merosot tanpa penonton.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut apabila permohonan pengujian Undang-Undang (UU) Penyiaran dikabulkan, masyarakat tidak lagi bebas memanfaatkan fitur siaran langsung atau live dalam platform media sosial (medsos) karena terbatas hanya pada lembaga penyiaran yang berizin. Tulis CNN Indonesia pada salah satu tajuk beritanya.



Bukan hanya itu, ICW entah punya kepentingan apa, mengkritik pemerintah akibat dana pemerintah mengalir ke influencer. Padahal, promosi program pemerintah jauh lebih murah menggunakan jasa influencer dibanding memakai media online maupun media elektronik yang biaya iklannya sekali kedip sudah milyaran rupiah melayang.

Pemerintah  menggunakan jasa influencer juga lebih pas, karena masyarakat cenderung menggunakan handphone pintar dibandingkan nonton televisi. Bahasa dan gaya influencer jauh lebih terkoneksi dengan gaya jaman now.

Tempo bahkan secara terbuka menuduh para influencer ini sebagai buzzer pemerintah. Kepanikan tempo beralasan, karena rating mereka mulai terjun bebas. Mereka makan dari klik iklan yang terkadang lewat tanpa keinginan pembaca.

Dari kasus ini, saya teringat blue bird yang menolak grab dan transportasi online lainnya. Saat itu, blue bird bukannya segera berinovasi sesuai jaman, malah menentang takdir perkembangan dunia digital.

Media-media mainstream ini kalau tidak segera berbenah, akan bernasib sama dengan dinosaurus. Punah dan hanya tinggal fosil sebagai tanda mereka pernah ada.

Jika kecantikan Cleopatra sirna oleh waktu, maka kebesaran media mainstream akan punah oleh kekuatan zaman digital. Di dunia ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan.



Post a comment

1 Comments

Dilarang Berkomentar dengan menggunakan unsur-unsur SARA atau mencemarkan nama baik seseorang dalam bentuk apapun.